Audit Sistem Informasi


Pengertian Audit Sistem Informasi
Menurut Weber (1999, p10) Audit Sistem Informasi adalah proses pengumpulan dan pengevaluasian bukti-bukti atau fakta untuk menetukan apakah sebuah sistem aplikasi sudah terkomputerisasi, sudah menetapkan sistem  pengendalian   intern   yang   memadai   dan   apakah   semua   aktiva dilindungi dengan baik atau tidak disalahgunakan, serta sudah terjaminnya integritas data, kehandalan dan kefektifan dalam penyelenggaraan sistem informasi berbasis komputer.
Menurut Gondodiyoto (2003, p151) Audit Sistem Informasi merupakan suatu pengevaluasian untuk mengetahui bagaimana tingkat kesesuaian antara aplikasi sistem informasi dengan prosedur yang telah ditetapkan dan mengetahui apakah suatu sistem informasi telah didisain dan diimplementasikan secara efektif, efisien dan ekonomis, memiliki mekanisme pengamanan  aset  yang  memadai  serta  menjamin  integritas  data  yang memadai.
Jadi dapat disimpulkan bahwa Audit Sistem Informasi merupakan suatu  proses  mengumpulkan  dan  mengevaluasi  bukti-bukti  yang berhubungan dengan sistem informasi untuk menentukan apakah sistem informasi  yang  digunakan  telah  menerapkan  sistem  pengendalian  yang memadai agar tidak disalahgunakan dan dapat menyajikan informasi yang berguna.

Tujuan Audit Sistem Informasi
Menurut Weber (1999, pp11-13) tujuan Audit Sistem Informasi secara garis besar dapat disimpulkan menjadi 4 tahap, yaitu :
1.   Meningkatkan objektifitas keamanan aset perusahaan
Aset informasi suatu seperti perangkat keras (hardware), perangkat lunak (software), sumber daya manusia, file atau data harus dijaga oleh suatu sitem pengendalian intern yang baik agar tidak terjadi penyalahgunaan aset perusahaan. Dengan demikian sistem pengamanan aset merupakan suatu hal yang sangat penting yang harus dipenuhi oleh perusahaan.
2.   Meningkatkan objektifitas integritas data
Integritas   data   (data   integrity)   adalah   suatu   konsep   dasar   sistem informasi. Data memiliki atribut-atribut tertentu seperti kelengkapan, kebenaran  dan  keakuratan.  Jika  integritas  data  tidak  dipelihara,  maka suatu perusahaan tidak akan lagi memiliki hasil suatu laporan yang benar bahkan perusahaan dapat menderita kerugiaan.
3.   Meningkatkan objektifitas efektifitas sistem
Efektifitas sistem informasi perusahaan memiliki peranan dalam proses pengambilan keputusan. Suatu sistem informasi dapat dikatakan efektif bila sistem informasi tersebut telah sesuai dengan kebutuhan user. Suatu sistem dapat dikatakan efisien jika sistem informasi dapat memenuhi kebutuhan user.
4.   Meningkatkan objektifitas efisiensi sistem
Efisiensi menjadi hal yang sangat penting ketika sumber komputer tidak lagi memiliki kapasitas yang memadai, jika cara kerja dari sistem aplikasi komputer menurun maka pihak manajemen harus mengevaluasi apakah efisiensi sistem masih memadai atau harus menambah sumber daya, karena suatu sistem dapat dikatakan efisien jika sistem informasi dapat memenuhi kebutuhan user dengan sumber daya informasi yang minimal.

Jenis Audit Sistem Informasi
Menurut Weber (1999, pp106-107) jenis-jenis Audit Sistem Informasi dapat dibagi menjadi 3, yaitu :
1.   Audit Secara Bersama-sama (Concurrent Audit)
Auditor merupakan anggota dari tim pengembangan sistem, mereka membantu tim dalam meningkatkan kualitas dari pengembangan untuk sistem spesifik yang mereka bangun dan yang akan diimplementasikan.
2.   Audit Setelah Implementasi (Postimplementation Audit)
Auditor membantu organisasi untuk belajar dari pengalaman pengembangan dari sistem aplikasi. Mereka akan mengevaluasi apakah sistem perlu dihentikan, dilanjutkan atau dimodifikasi.
3.   Audit Umum (General Audit)
Auditor mengevaluasi pengendalian pengembangan sistem secara keseluruhan.  Mereka  melakukan  audit  untuk  menentukan  apakah mereka dapat mengurangi waktu dari pengujian substantif yang perlu dilakukan untuk memberikan opini audit tentang pernyataan keuangan (sebagai  tuntutan  dari  manajemen)  ataupun  tentang  keefektifan  dan keefisienan sistem.

No comments:

Post a Comment