Showing posts with label Usaha. Show all posts
Showing posts with label Usaha. Show all posts
Usaha Rental Komputer Prin Dengan Harga Murah
Usaha Rental Komputer dan Jasa Pengetikan sekarang ini sangat trend, dengan harga print yang murah dan terjangkau oleh Mahasiswa dan anak sekolah, hal ini sangat membantu bagi para mahasiswa yang ingin mengerjakan tugas perkuliahan.
Walaupun saat ini sudah banyak orang yang memiliki laptop atau komputer pribadi namun pada kenyataannya Usaha Rental Komputer dan Jasa Pengetikan tidak pernah sepi pengunjung dan masih banyak diminati karena hasilnya cukup lumayan. Pengunjung Rental Komputer dan Jasa Pengetikan banyak dari kalangan pelajar, mahasiswa, karyawan kantor atau masyarakat umum. Biasanya para siswa datang ke tempat rental komputer untuk mengerjakan tugas sekolah, sedangkan para mahasiswa datang ketempat rental komputer untuk membuat makalah, laporan atau skripsi. Selain karena alasan tidak memiliki laptop atau komputer sendiri, alasan orang ke tempat rental komputer dikarenakan keterbatasan orang dalam mengoperasikan komputer sehingga mereka membutuhkan bantuan orang yang bisa mengoperasikan komputer, selain itu karena laptop atau komputer orang yang bersangkutan sedang rusak atau sedang diservice, dan masih banyak alasannya lain mengapa orang mendatangi tempat Rental Komputer dan Jasa Pengetikan.
Salah satu rental komputer yang saya bangun dari sejak tahun 2008 sangat membantu untuk pribadi saya tentunya. Sebagai seorang mahasiswa yang sudah tentu mengetahui kuatan perekonomian anak KOS yang merantau ke Medan untuk kuliah, maka saya membuat sebuah terobisan dimana kala itu ngeprin per lembarnya adalah Rp. 500 s/d 1000 / lbr, maka saya buat Print Hitam Putih Rp. 100 / lbr dan jika Print Warna Apabila Warna kecil Rp. 500 / lbr, Prin warna setengah kertas Rp. 1000 dan Full Warna Rp. 1500 / lbr. dengan Motto "Biar untung Sedikit tetapi terus-menerus berkelanjutan". dan Alhamdulillah seiring dengan waktu ide ini di ikuti oleh kawan-kawan seprovesi.
![]() |
| Rental MACRO.COM Jl. SM. Raja No. 206-A Medan |
![]() |
| Cabang MACRO.COM Jl. Perjuangan No. 167-C Medan Pancing |
Lingkungan kampus, sekolah atau daerah perkantoran merupakan daerah yang sangat potensial untuk mengembangkan usaha ini. Terutama dilingkungan kampus atau lingkungan kost-kost an untuk mahasiswa, komputer termasuk sarana yang tidak bisa diabaikan begitu saja, karena hampir semua tugas kampus, membuat makalah atau pun skripsi harus dikerjakan menggunakan komputer, bahkan apabila mahasiswa tidak memiliki waktu untuk mengetik naskah skripsi atau tugas lainnya untuk praktisnya mereka lebih memilih untuk menggunakan jasa pengetikan.
Apabila Anda memiliki ketrampilan dan keahlian dalam mengoperasikan komputer, tidak ada salahnya Anda membuka Usaha Rental Komputer dan Jasa Pengetikan ini, namun apabila Anda tidak memiliki ketrampilan dan keahlian Anda bisa mempekerjakan karyawan. Usaha ini dapat dijalani dengan dana yang terbatas. Peluang Usaha Rental Komputer akan mendatangkan keuntungan yang maksimal apabila dikelola dengan baik dan benar. Dengan semua kelebihan Usaha Rental Komputer dan Jasa Pengetikan, tidak lah heran bila banyak pelaku usaha baru yang berminat untuk memulai Usaha Rental Komputer dan Jasa Pengetikan ini.
Disamping itu untuk melamar di Perusahaan-Perusahaan sangat susah terutama di Kota Medan, dan apabila pun ada maka gajinya sangat minim. Maka dari itu saya pribadi mari kita sebagai generasi muda kita tingkatkan jiwa Wirausaha kita, disamping membantuk pemerintah untuk mengurangi angka pengangguran, masa dekan kita juga akan menjadi lebih baik.
Labels:
Peluang Usaha,
Usaha,
Usaha Makro,
Usaha Mikro
Peran dan Fungsi Pemerintah di Bidang Ekonomi
Ekonomi Makro, mempelajari variabel-variabel ekonomi dalam lingkup kecil misalnya perusahaan, rumah tangga. Ekonomi mikro juga mempelajari bagaimana berbagai keputusan dan perilaku tersebut memengaruhi penawaran dan permintaan atas barang dan jasa, yang akan menentukan harga; dan bagaimana harga, pada gilirannya, menentukan penawaran dan permintaan barang dan jasa selanjutnya.
Ruang lingkup kajian ekonomi mikro adalah produsen dan konsumen. Tradisi berlandaskan teori Adam Smith. Ekonomi mikro dengan demikian memiliki ruang lingkup pada produsen dan konsumen. Produsen dan konsumen tersebut dalam dunia ekonomi yang nyata adalah individu-individu pada rumah tangga keluarga, masyarakat, atau perusahaan.
Peran dan Fungsi Pemerintah di Bidang Ekonomi
- Fungsi stabilisasi, yaitu fungsi pemerintah dalam menciptakan kestabilan ekonomi, sosial politik, hokum, pertahanan dan keamanan.
- Fungsi alokasi, yaitu fungsi pemerintah sebagai penyedia barang dan jasa public, seperti pembangunan jalan raya, gedung sekolah, penyediaan fasilitas penerangan, dan telepon.
- Fungsi distribusi, yaitu fungsi pemerintah dalam pemerataan atau distribusi pendapatan masyarakat
Masalah-masalah yang dihadapi pemerintah di bidang ekonomi
1. Masalah kemiskinan
Upaya penanggulangan kemiskinan dapat dilakukan melalui berbagai cara, misalnya program IDT (Inpres Desa Tertinggal), KUK (Kredit Usaha Kecil), KMKP (Kredit Modal Kerja Permanen) PKT (Program Kawasan Terpadu), GN-OTA dan program wajib belajar.
2. Masalah Keterbelangkangan
Masalah yang dihadapi adalah rendahnya tingkat pendapatan dan pemerataannya, rendahnya pelayanan kesehatan, kurang terpeliharanya fasilitas umum, rendahnya tingkat disiplin masyarakat, renddahnya tingkat keterampilan, rendahnya tingkat pendidikan formal, kurangnya modal, produktivitas kerja, lemahnya manajemen usaha. Untuk mengatasi masalah ini pemerintah berupaya meningkatkan kualitas SDM, pertukranan ahli, transper teknologi dari Negara maju.
3. Masalah pengangguran dan kesempatan kerja
Masalah pengangguran timbul karena terjadinya ketimpangan antara jumlah angkatan kerja dan kesempatan kerja yang tersedia. Untuk mengatasi masalah ini pemerintah melakukan pelatihan bagi tenaga kerja sehingga tenaga kerja memeiliki keahlian sesuai dengan lapangan kerja yang tersedia, pembukaan investasi baru, terutama yang bersifat padat karya, pemberian informasi yang cepat mengenai lapangan kerja.
Labels:
Peluang Usaha,
Pendidikan,
Pengertian,
Usaha,
Usaha Makro,
Usaha Mikro
Kebijakan Pemerintah Dalam Bidang Ekonomi
Ilmu ekonomi muncul karena adanya tiga kenyataan berikut :
- Kebutuhan manusia relatif tidak terbatas.
- Sumber daya tersedia secara terbatas.
- Masing-masing sumber daya mempunyai beberapa alternatif penggunaan.
Ilmu ekonomi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia di dalam memenuhi kebutuhannya yang relatif tidak terbatas dengan menggunakan sumber daya yang terbatas dan masing-masing sumber daya mempunyai alternatif penggunaan (opportunity cost).
1. Ekonomi Makro
Ilmu ekonomi makro mempelajari variabel-variabel ekonomi secara agregat (keseluruhan). Variabel-variabel tersebut antara lain : pendapatan nasional, kesempatan kerja dan atau pengangguran, jumlah uang beredar, laju inflasi, pertumbuhan ekonomi, maupun neraca pembayaran internasional.
Ilmu ekonomi makro mempelajari masalah-masalah ekonomi utama sebagai berikut :
- Sejauh mana berbagai sumber daya telah dimanfaatkan di dalam kegiatan ekonomi. Apabila seluruh sumber daya telah dimanfaatkan keadaan ini disebut full employment. Sebaliknya bila masih ada sumber daya yang belum dimanfaatkan berarti perekonomian dalam keadaan under employment atau terdapat pengangguran/belum berada pada posisi kesempatan kerja penuh.
- Sejauh mana perekonomian dalam keadaan stabil khususnya stabilitas di bidang moneter. Apabila nilai uang cenderung menurun dalam jangka panjang berarti terjadi inflasi. Sebaliknya terjadi deflasi.
- Sejauh mana perekonomian mengalami pertumbuhan dan pertumbuhan tersebut disertai dengan distribusi pendapatan yang membaik antara pertumbuhan ekonomi dan pemerataan dalam distribusi pendapatan terdapat trade off maksudnya bila yang satu membaik yang lainnya cenderung memburuk.
2. Ekonomi Mikro
Sementara ilmu ekonomi mikro mempelajari variabel-variabel ekonomi dalam lingkup kecil misalnya perusahaan, rumah tangga.
Dalam ekonomi mikro ini dipelajari tentang bagaimana individu menggunakan sumber daya yang dimilikinya sehingga tercapai tingkat kepuasan yang optimum. Secara teori, tiap individu yang melakukan kombinasi konsumsi atau produksi yang optimum bersama dengan individu-individu lain akan menciptakan keseimbangan dalam skala makro dengan asumsi ceteris paribus.
Perbedaan ekonomi mikro dan ekonomi makro
- Kebutuhan manusia relatif tidak terbatas.
- Sumber daya tersedia secara terbatas.
- Masing-masing sumber daya mempunyai beberapa alternatif penggunaan.
- Sejauh mana berbagai sumber daya telah dimanfaatkan di dalam kegiatan ekonomi. Apabila seluruh sumber daya telah dimanfaatkan keadaan ini disebut full employment. Sebaliknya bila masih ada sumber daya yang belum dimanfaatkan berarti perekonomian dalam keadaan under employment atau terdapat pengangguran/belum berada pada posisi kesempatan kerja penuh.
- Sejauh mana perekonomian dalam keadaan stabil khususnya stabilitas di bidang moneter. Apabila nilai uang cenderung menurun dalam jangka panjang berarti terjadi inflasi. Sebaliknya terjadi deflasi.
- Sejauh mana perekonomian mengalami pertumbuhan dan pertumbuhan tersebut disertai dengan distribusi pendapatan yang membaik antara pertumbuhan ekonomi dan pemerataan dalam distribusi pendapatan terdapat trade off maksudnya bila yang satu membaik yang lainnya cenderung memburuk.
Dilihat dari |
Ekonomi Mikro |
Ekonomi Makro |
Harga |
Harga ialah nilai dari suatu komoditas (barang tertentu saja) |
Harga adalah nilai dari komoditas secara agregat (keseluruhan) |
Unit analisis |
Pembahasan tentang kegiatan ekonomi secara individual. Contohnya permintaan dan dan penawaran, perilaku konsumen, perilaku produsen, pasar, penerimaan, biaya dan laba atau rugi perusahaan |
Pembahasan
tentang kegiatan ekonomisecara keseluruhan. Contohnya pendapatan nasional,
pertumbu8han ekonomi, inflasi, pengangguran, investasi dan kebijakan ekonomi.
|
Tujuan analisis |
Lebih memfokuskan pada analisis tentang cara mengalokasikan sumber daya agar dapat dicapai kombinasi yang tepat. |
Lebih memfokuskan pada analisis tentang pengaruh kegiatan ekonomi terhadap perekonomian secara keseluruhan |
Masalah-masalah yang dihadapi pemerintah di bidang ekonomi
1. Masalah kemiskinan
Upaua penanggulangan kemiskinan dapat dilakukan melalui berbagai cara, misalnya program IDT (Inpres Desa Tertinggal), KUK (Kredit Usaha Kecil), KMKP (Kredit Modal Kerja Permanen) PKT (Program Kawasan Terpadu), GN-OTA dan program wajib belajar.
2. Masalah Keterbelangkangan
Masalah yang dihadapi adalah rerndahnya tingkat pendapatan dan pemerataannya, rendahnya pelayanan kesehatan, kurang terpeliharanya fasilitas umum, rendahnya tingkat disiplin masyarakat, renddahnya tingkat keterampilan, rendahnya tingkat pendidikan formal, kurangnya modal, produktivitas kerja, lemahnya manajemen usaha. Untuk mengatasi masalah ini pemerintah berupaya meningkatkan kualitas SDM, pertukranan ahli, transper teknologi dari Negara maju.
3. Masalah pengangguran dan kesempatan kerja
Masalah pengangguran timbul karena terjadinya ketimpangan antara jumlah angkatan kerja dan kesempatan kerja yang tersedia. Untuk mengatasi masalah ini pemerintah melakukan pelatihan bagi tenaga kerja sehingga tenaga kerja memeiliki keahlian sesuai dengan lapangan kerja yang tersedia, pembukaan investasi baru, terutama yang bersifat padat karya, pemberian informasi yang cepat mengenai lapangan kerja
4. Masalah kekurangan modal
Kekurangan modal adalah suatu cirri penting setiap Negara yang memulai proses pembangunan. Kekurangan modal disebabkan tingkat pendapatan masyarakat yang rendah yang menyebabkan tabungan dan tingkat pembentukan modal sedikit. Cara mengatasinya memlaui peningkatan kualitas SDM atau peningkatan investasi menjadi lebih produktif.
Labels:
Akuntansi,
Bisnis,
Peluang Usaha,
Pendidikan,
Pengadilan,
Pengertian,
Teknologi,
Usaha
Integrasi Kekuatan Struktural dan Kultural
Pada tanggal 28 November sampai 2 Desember 2004, organisasi sosial-keagamaan terbesar di negeri ini, Nahdlatul Ulama (NU), menyelenggarakan hajatan besar, yakni Muktamar Ke-31 NU. Muktamar kali ini, sebagaimana diprediksi banyak kalangan, akan berlangsung sangat sengit sebagaimana muktamar di Situbondo 1984.
Muktamar ini diwarnai tarik-menarik kepentingan antara kubu gerakan kultural yang dalam pengertian ini mereka bergerak di wilayah kultural dan menolak adanya gerakan politik praktis dalam tubuh NU dengan 'kubu struktural , yakni para pengurus NU yang aktif sebagai fungsionaris dalam jajaran NU. Kelompok pertama direpresentasikan oleh kiai-kiai KH Abdurrahman Wahid dkk sementara kelompok kedua diwakili oleh KH Hasyim Muzadi, yang secara struktur Ketua Umum Tanfidziyah PBNU 1999-2004.
Kedua kelompok ini tidak hanya berseteru tentang bagaimana konsep dan masa depan NU tetapi juga sama-sama memiliki calon untuk didudukkan di kursi teratas, yakni Tanfidziyah. Sehingga, perseteruan tidak hanya berhenti pada bahstul masail, lebih sengit justru pada perseteruan pemilihan ketua umum tanfidziyah dan rais am. Justru persoalan yang terakhir ini yang lebih dominan dan memiliki ghirah semangat tinggi untuk saling menjatuhkan. Kedua kelompok tersebut sama-sama memikul kepentingan yang berbeda dan seakan sulit dipertemukan dalam satu forum muktamar.
Sesungguhnya, 'perseteruan' di internal NU dan tarik-menarik antara sayap kultural dan sayap aktivis fungsionaris struktural NU tersebut tidak perlu terjadi, jika tiga hal berikut diperhatikan. Pertama, perlu adanya jalinan komunikasi yang intim dan sinergi kekuatan yang padu dalam kedua jalur tersebut secara sekaligus, yaitu jalur struktural dan jalur kultural. Sebab, bagi warga NU, yang paling inti dari dua strategi perjuangan tersebut baik yang kultural maupun yang struktural adalah semakin membaiknya taraf hidup nahdiyin. Oleh karena itu, bahu-membahu di antara keduanya akan cukup menentukan bagi kebaikan masyarakat NU terutama di tingkat grass root. Sebaliknya, sikap saling 'menggergaji' antarmereka justru akan merugikan warga NU sendiri.
Kedua, para warga NU yang menyebut dirinya kekuatan kultural ---dan secara politis mereka adalah elite Partai Kebangkita Bangsa (PKB), mesti memiliki komitmen ke-NU-an yang kuat, perlu diakui bahwa kehadiran mereka di panggung politik kepartaian dapat difungsikan bagi pemenuhan sebesar-besarnya kemakmuran dan kesejahteraan warga NU di level akar rumput. Pada cita inilah, yang datang dari beragam partai politik itu dapat menemukan titik temu. Namun, sayangnya, komitmen ke-NU-an yang seharusnya menjadi panduan mereka itu hancur lebur karena perebutan kekuasaan dan pertengkaran individual di antara mereka sendiri. Kecuali hanya sebagian kecil saja, mereka lebih kentara disibukkan oleh aktivitas pengukiran karier politiknya sendiri, daripada yang lainnya.
Ketiga, partai politik yang dikelola oleh orang-orang NU termasuk disini adalah PKB mestinya lebih sensitif terhadap sejumlah perkara yang menjadi kebutuhan kaum nahdiyin. Misalnya, terhadap pentingnya peningkatan dana anggaran untuk perbaikan pendidikan di Indonesia, di mana kondisi pendidikan warga NU sangat memprihatinkan. Sebab, jika mau jujur, warga NU yang tinggal di dusun-dusun dan pedalaman, bukan hanya di luar Jawa melainkan juga di Pulau Jawa masih banyak yang illiterate, sehingga perlu mendapatkan penanganan serius dengan suntikan dana yang memadai. Dalam tataran itu, yang terjadi malah kebalikannya. Menghadapi melorotnya anggaran pendidikan di APBN, para politikus NU itu justru terlihat--maaf!--gontai dan kedodoran.
Namun, yang perlu ditegaskan bahwa sebuah partai politik yang menjadi medium artikulasi dan penyaluran aspirasi warga NU tetaplah diperlukan, tanpa perlu menyulap NU sebagai partai politik. Harapannya, tentu bersama dengan partai-partai lain, partai tersebut dapat mendorong proses demokratisasi di Indonesia yang kini berlangsung, seraya dapat membagikan dana-dana pembangunan secara merata ke masyarakat bawah yang membutuhkannya. Dan, bagi NU sendiri, yang perlu dikembangkan sejatinya bukanlah 'politik kekuasaan' yang cenderung menguntungkan para elitenya, melainkan yang jauh lebih fundamental adalah 'politik kewargaan' yang coba berjuang bagi terentasnya warga NU dari belitan penderitaan dan kemiskinan yang selama ini menderanya.
Oleh karena itu, “perseteruan” antara dua kubu (kubu cultural vs kebu structural ) sudah sepantasnya harus segera diakhiri, karena hanya akan menjauhkan NU dari cita-citanya selama ini, yaitu terciptanya kesejahteraan masyarakat disegala bidang. Sebalaiknya integrasi antara dua kubu akan mempercepat proses terwujudnya kemakmuran bagi seluruh masyarakat, khusunya warga NU, sebagaimana dicita-citakan oleh para pendiri NU 80 tahun yang silam.
Dalam kerangka hal tersebut di atas, penting kiranya mencermati kembali tausiyah PBNU pada saat pemilu kemarin. Kalau dibaca lebih mendalam, tausyiah yang dikeluarkan oleh NU ini tidak hanya sebagai panduan moral bagi warga NU. Lebih jauh, pada prinsipnya tausyiah tersebut ingin kembali mengajak organisasi keagamaan di Indonesia untuk bergandengan bersama dalam merancang bangun demokratisasi di Indonesia. Sudah diketahui bersama bahwa peran organisasi keagamaan saat ini justru beralih fungsi dari media kekuatan kultural menjadi kekuatan politik.
Memang harus diakui bersama bahwa organisasi keagamaan di Indonesia semisal NU, Muhammadiyah, Persis dan lain sebagainya tidak hanya menjadi ruang integrasi sosial-keagamaan tetapi juga sebagai media terciptanya rasa kolektivitas yang membentuk identitas kelompok tertentu. Pada titik ini organisasi keagamaan tidak hanya memiliki ikatan struktural dengan warganya, tetapi merasuk menjadi ikatan emosional yang lebih mendalam.
Kepemilikan identitas ini pada gilirannya kerap menyebabkan tumbuhnya komunalisme dan fanatisme (ta'asshubiyah) yang dapat memecah kepentingan bersama seluruh bangsa. Dan dalam konteks politik, identitas tersebut menjadi semangat tumbuhnya politik aliran seperti yang diteliti oleh Geertz. Seperti yang diamati oleh Geertz pada tahun 70-an bahwa ternyata dalam momen pemilu pertarungan antar politik aliran menjadi begitu kental. Dan dikotomi politik aliran yang paling tegas adalah politik aliran berdasarkan organisasi keagamaan.
Harus diakui bersama bahwa tidak sedikit pula partai politik yang sampai saat ini masih merepresentasikan politik aliran walaupun secara eksplisit tumbuh sebagai partai terbuka. Pada konteks ini NU-Muhammadiyah dalam momen apapun bahkan dalam konteks politik telah memainkan kompetisi yang menyejarah. Kepentingan politik yang diemban oleh dua organisasi keagamaan dalam sejarah politik di Indonesia terus berjalan. Baik NU maupun Muhammadiyah bersikukuh untuk menempatkan kadernya dalam struktur pemerintah. Menjadi agenda besar bagaimana pentas politik di Indonesia melepaskan kepentingan komunalisme yang sudah mengakar ini.
Di sini, tausyiah yang dikeluarkan NU menjadi cukup relevan. Dalam hal ini tausyiah tersebut tidak hanya menjadi panduan bagi masyarakat NU tetapi memiliki agenda besar, yakni sebagai penerapan politik kebangsaan yang bersih dari kepentingan kelompok tertentu. Dengan ini, NU telah memainkan apa yang disebutkan dalam tausyiah tersebut, politik kenegaraan dan politik kebangsaan tanpa mencoba melebur dalam ranah politik kekuasaan. Posisi ini menjadi prestasi gemilang bagi NU yang dalam hal tertentu dibidik sebagai organisasi keagamaan masyarakat desa, tradisional. Namun patut dicatat bahwa dengan tausyiah ini NU seakan melontarkan isu baru tentang reformasi peran dan identitas organisasi keagamaan di Indonesia.
Peran yang dimainkan oleh NU saat ini patut menjadi contoh dan referensi bagi yang lain. Bahwa organisasi keagamaan yang kerap menampilkan sentimen politik aliran telah mampu memainkan peran yang lepas dari perayaan kepentingan politik kekuasaan, seperti yang ditampilkan oleh NU saat ini.
Tausyiah yang dikeluarkan oleh PBNU ini menjadi prasasti demokrasi di tubuh NU, khususnya dan sebagai contoh bagi organisasi keagamaan di Indonesia yang setiap momen pemilu kerap dijadikan tambang legitimasi politik kelompok tertentu.
Posisi ideal seperti inilah yang harus dimainkan oleh organisasi keagamaan dalam rangka ikut andil dalam politik kebangsaan di tanah air. Organisasi keagamaan tidak harus mengarahkan warganya pada arus dukungan kelompok tertentu tetapi harus mampu menjadi media kultural untuk membumikan demokratisasi di Indonesia (Tempo, 29/11/04).
Patut diakui meski ada kubu yang terus menentang dan menginginkan adanya perubahan di tubuh NU, namun KH Hasyim Muzadi tetap terpilih kembali dalam Muktamar NU ke-31 di Donohudan Solo. Memang diakui ada banyak pihak yang ingin perubahan, tapi peserta Muktamar sesuai dengan tata tertib yang telah dirumuskan oleh pengurus cabang dan wilayah tetap memilih pasangan Sahal-Hasyim sebagai nahkoda Jami’iyah NU. Artinya, bahwa terpilihnya kai Hasyim untuk periode kedua kalinya ini bukan hal yang aneh dan sangat masuk akal karena ia menguasai secara struktural. Justru kalau Hasyim tidak terpilih, itu merupakan hal yang luar biasa. Berarti ada reformasi demikian ungkap Greg Barton Suatu ketika.
Meski demikian peran Gus Dur di arena Muktamar hakekatnya untuk mewarnai NU yang tetap terbuka untuk sebuah proses demokrasi. Sebab, hal itu sebagia bukti bahwa, di NU persoalan wibawa dan kharisma masih sangat kuat dan Gus Dur memiliki faktor itu. Dan dalam kenyataannya kharisma dan wibawa ini telah nampak luntur jika kita berkaca dalam muktamar NU ke-31 ini. Apakah kondisi dan realitas ini akan mengalami penurunan semangat (degradasi) dan soliditas warga nahdliyyin di tingkat akar rumput. Sebab, kita cukup memaklumi bahwa pada dasarnya NU adalah jaringan ulama dan pesantren. Semangat pesantrennya tidak akan hilang, hanya saja mungkin akan banyak kiai atau pesantren yang merasa tidak perlu aktif di organisasi NU. Tapi secara kultural mereka tetap NU (Duta, 3 Desember 2004).
Dinamika perkembangan NU pasca Muktamar ke-31, secara prinsip semua kaum Muslim yang masih punya hati nurani termasuk segenap warga NU sangat berharap agar ancaman Gus Dur untuk mufaroqoh tersebut jangan menjadi kenyataan. Semua kaum Muslim, sangat menginginkan agar NU tetap utuh dan tidak berpecah belah karena hanya akan memperlemah kekuatan NU itu sendiri. Untuk itu, setelah menduduki posisi sebagai Ketua Umum PBNU, Hasyim Muzadi harus secepatnya mengambil inisiatif untuk mengakomodir semua aspirasi warga NU dan para kyai sepuh NU termasuk Gus Dur.
Pada saat yang sama, Hasyim Muzadi juga harus secepatnya mengubah gaya kepemimpinannya yang selama ini menekankan pendekatan politik ketimbang dengan pendekatan kultural yang bisa terterima oleh semua pihak. Pendeknya, kiai Hasyim jangan coba-coba lagi bermain api dengan menceburkan diri kedalam kancah politik praktis yang telah menyebabkan dirinya mengalami penolakan seperti sekarang dari kubu Gus Dur dan sejumlah sesepuh NU lainnya.
Tentang jalannya Muktamar NU ke-31 di Solo yang telah memilih kembali Hasyim Muzadi untuk masa jabatan kedua, Heidar Nasir (seorang tokoh Muhammadiyah) menyatakan, merasa bangga dengan tanda-tanda telah terjadinya peningkatan kesadaran gerakan civil society di kalangan warga NU. Karena itu pada kesempatan itu ia ingin mengucapkan selamat untuk Pak Hasyim Muzadi dan percaya kiai Hasyim akan mampu memimpin NU dengan catatan harus segera menggaungkan kesadaran civil society tersebut dan secara total meninggalkan panggung politik, hanya dengan cara itu dia akan bisa menyatukan semua pihak di tubuh NU, dan menyetukan basis potensial NU yakni kokohnya integrasi kelompok cultural dan Struktural dalam tenda besar NU yang senantiasa menyebarkan misi rahmatan lil-alamin dan mengayomi warganya dengan penuh pengabdian dan keikhlasan (Antara, 03 Desember 2004).
Labels:
Kepemimpinan,
Peluang Usaha,
Pendidikan,
Pengertian,
Usaha
Sejarah Koperasi di Indonesia
Pengertian Koperasi
Koperasi adalah organisasi bisnis yang dimiliki dab dioperasikan oleh orang-seorang demi kepentingan bersama. Koperasi melandaskan kegiatan berdasarkan prinsip gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan asas kekeluargaan.
Prinsip Koperasi
- Prinsip koperasi menurut UU No. 25 tahun 1992 adalah:
- Keanggotaan bersifat sukarela dan terbuka
- Pengelolaan dilakukan secara demokratis
- Pembagian SHU (Sisa Hasil Usaha) dilakukan secara adil sesuai dengan jasa usaha masing-masing anggota
- Pemberian balas jasa yang terbatas terhadap modal
- Kemandirian
- Pendidikan perkoperasian
- Kerjasama antar koperasi
Sejarah Koperasi Di Indonesia
Sejarah singkat gerakan koperasi bermula pada abad ke-20 yang pada umumnya merupakan hasil dari usaha yang tidak spontan dan tidak dilakukan oleh orang-orang yang sangat ka
ya. Koperasi tumbuh dari kalangan rakyat, ketika penderitaan dalam lapangan ekonomi dan sosial yang ditimbulkan oleh sistem kapitalisme semakin memuncak.Beberapa orang yang penghidupannya sederhana dengan kemampuan ekonomi terbatas, terdorong oleh penderitaan dan beban ekonomi yang sama, secara spontan mempersatukan diri untuk menolong dirinya sendiri dan manusia sesamanya.
Pada tahun 1896 seorang Pamong Praja Patih R. Aria Wiria Atmaja di Purwokerto mendirikan sebuah Bank untuk para pegawai negeri (priayi). Ia terdorong oleh keinginannya untuk menolong para pegawai yang makin menderita karena terjerat oleh lintah darat yang memberikan pinjaman dengan bunga yang tinggi. Maksud Patih tersebut untuk mendirikan koperasi kredit model seperti di Jerman. Cita-cita semangat tersebut selanjutnya diteruskan oleh De Wolffvan Westerrode, seorang asisten residen Belanda. De Wolffvan Westerrode sewaktu cuti berhasil mengunjungi Jerman dan menganjurkan akan mengubah Bank Pertolongan Tabungan yang sudah ada menjadi Bank Pertolongan, Tabungan dan Pertanian. Selain pegawai negeri juga para petani perlu dibantu karena mereka makin menderita karena tekanan para pengijon. Ia juga menganjurkan mengubah Bank tersebut menjadi koperasi. Di samping itu ia pun mendirikan lumbung-lumbung desa yang menganjurkan para petani menyimpan pada musim panen dan memberikan pertolongan pinjaman padi pada musim paceklik. Ia pun berusaha menjadikan lumbung-lumbung itu menjadi Koperasi Kredit Padi. Tetapi Pemerintah Belanda pada waktu itu berpendirian lain. Bank Pertolongan, Tabungan Dan Pertanian dan Lumbung Desa tidak dijadikan koperasi tetapi Pemerintah Belanda membentuk lumbung-lumbung desa baru, bank-bank desa, rumah gadai dan Centrale Kas yang kemudian menjadi Bank Rakyat Indonesia (BRI). Semua itu adalah badan usaha Pemerintah dan dipimpin oleh orang-orang Pemerintah.
Pada zaman Belanda pembentuk koperasi belum dapat terlaksana karena :
- Belum ada instansi pemerintah ataupun badan non pemerintah yang memberikan penerangan dan penyuluhan tentang koperasi.
- Belum ada undang undang yang mengatur kehidupan koperasi.
- Pemerintah jajahan sendiri masih ragu-ragu menganjurkan koperasi karena pertimbangan politik, khawatir koperasi itu akan digunakan oleh kaum politik untuk tujuan yang membahayakan pemerintah jajahan itu.
Mengantisipasi perkembangan koperasi yang sudah mulai memasyarakat, Pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan peraturan perundangan tentang perkoperasian. Pertama, diterbitkan Peraturan Perkumpulan Koperasi No. 43, Tahun 1915, lalu pada tahun 1927 dikeluarkan pula Peraturan No. 91, Tahun 1927, yang mengatur Perkumpulan-Perkumpulan Koperasi bagi golongan Bumiputra. Pada tahun 1933, Pemerintah Hindia-Belanda menetapkan Peraturan Umum Perkumpulan-Perkumpulan Koperasi No. 21, Tahun 1933. Peraturan tahun 1933 itu, hanya diberlakukan bagi golongan yang tunduk kepada tatanan hukum Barat, sedangkan peraturan tahun 1927, berlaku bagi golongan Bumiputra. Diskriminasi pun diberlakukan pada tataran kehidupan berkoperasi.
Pada Tahun 1908, Budi Utomo yang didirikan oleh Dr. Sutomo memberikan peranan bagi gerakan koperasi untuk memperbaiki kehidupan rakyat. Pada tahun 1915 dibuat peraturan Verordening op de Cooperatieve Vereeniging, dan pada tahun 1927 Regeling Inlandschhe Cooperatieve. Pada tahun 1927 dibentuk Serikat Dagang Islam, yang bertujuan untuk memperjuangkan kedudukan ekonomi pengusaha-pengusaha pribumi. Kemudian pada tahun 1929, berdiri Partai Nasional Indonesia yang memperjuangkan penyebarluasan semangat koperasi.
Namun pada tahun 1933 keluar UU yang mirip UU no. 431 sehingga mematikan usaha koperasi untuk yang kedua kalinya. Pada tahun 1942 Jepang menduduki Indonesia. Jepang lalu mendirikan koperasi kumiyai. Awalnya koperasi ini berjalan mulus. Namun fungsinya berubah drastis dan menjadi alat Jepang untuk mengeruk keuntungan, dan menyengsarakan rakyat Indonesia.
Setelah Indonesia merdeka, pada tanggal 12 Juli 1947, pergerakan koperasi di Indonesia mengadakan Kongres Koperasi yang pertama di Taikmalaya. Hari ini kemudian ditetapkan sebagai hari Koperasi Indonesia. Sekaligus membentuk Sentral Organisasi Koperasi Rakyat Indonesia (SOKRI) yang berkedudukan di Tasikmalaya (Bandung sebagai ibukota Provinsi sedang diduduki oleh tentara Belanda). Lalu kita mengenal Moh. Hatta sebagai bapak koperasi. Beliau mengusulkan didirikannya 3 macam koperasi:
Pertama, adalah koperasi konsumsi yang terutama melayani kebutuhan kaum buruh dan pegawai.
Kedua, adalah koperasi produksi yang merupakan wadah kaum petani (termasuk peternak atau nelayan).
Ketiga, adalah koperasi kredit yang melayani pedagang kecil guna memenuhi kebutuhan modal.
Bung Hatta mengatakan bahwa tujuan koperasi yang sebenarnya bukan mencari laba atau keuntungan, namun bertujuan untuk memenuhi kebutuhan bersama anggota koperasi.
Labels:
Bisnis,
Koperasi,
Pengertian,
Usaha
Enterprise Resource Planning
Please Red this article
Enterprise Resource Planning (ERP)
Enterprise Resource Planning (ERP)
Mengacu pada pendapat Motiwalla dan Jeff (2009: 7) pengertian Sistem ERP (Enterprise Resource Planning) dapat dikemukakan sebagai generasi pertama dari sistem perusahaan yang tujuannya adalah untuk mengintegrasikan data secara menyeluruh dalam mendukung semua fungsi utama perusahaan. Menurut Holtsnider dan Brian (2012: 219), ERP memiliki definisi yang luas. ERP digunakan dalam berbagai cara untuk serangkaian kegiatan yang terlibat dalam perusahaan untuk mengelola seluruh sumber daya yang ada di dalam perusahaan tersebut.
Berdasarkan pendapat Leon (2008: 14), ERP adalah teknik-teknik dan konsep-konsep untuk pengelolaan terintegrasi suatu bisnis secara menyeluruh dari sudut pandang penggunaan secara efektif sumber daya manajemen untuk meningkatkan efisiensi manajemen perusahaan.
Ritel
Mengacu pada pendapat Fazriyah (2008: 4), ritel adalah sebuah bisnis yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan konsumen dan dijual secara eceran. Mengacu pada pendapat Mathur ritel dapat didefinisikan dengan menjual barang kepada pelanggan biasanya dalam kuantitas yang kecil dan tidak untuk di jual kembali.
Point of Sales (POS)
Menurut Hendry (2010: 1), Point of Sales (POS) adalah sebuah sistem yang terdiri dari hardware dan software yang didesain sesuai dengan keperluan dan dapat diintegrasikan dengan beberapa alat pendukung agar dapat membantu mempercepat proses transaksi. Menurutnya, sistem POS digunakan di supermarket, restoran, hotel, dan tempat-tempat lain yang membuka jasa ritel. Dalam lingkup yang luas, POS juga berarti proses pelayanan transaksi dalam sebuah toko ritel.
SAP
Berpusat di Walldorf, Jerman, SAP adalah pemimpin pasar dalam software aplikasi enterprise. Didirikan pada tahun 1972, SAP (System, Applications, Products in Data Processing) mempunyai sejarah yang kaya akan inovasi dan pertumbuhan dari pemimpin industri yang sesungguhnya. SAP mempunyai lebih dari 54.000 karyawan dan mempunyai lokasi penjualan dan pengembangan lebih dari 50 negara di seluruh dunia. (Wan & Jiajun. Mengacu pada pendapat Kogent Learning Solutions,Inc. (2011: 1), SAP adalah sebuah software bisnis yang dapat disesuaikan berdasarkan pada persyaratan dari user.
Error
Error merupakan ketidaksesuaian antara nilai yang sebenarnya dengan hasil yang diberikan oleh software dan nilai benar tertentu dari hasil untuk masukan yang diberikan. Jelasnya, error merujuk kepada perbedaan antara hasil yang sebenarnya dari software dengan hasil yang benar. Error juga digunakan untuk merujuk kepada keputusan yang salah yang diberikan dalam kasus dibandingkan dengan hasil yang benar. Error juga merujuk kepada tindakan manusia yang menyebabkan software menjadi rusak atau salah. (Agarwal, Tayal, Gupta.
Faults
Fault merupakan suatu kondisi yang menyebabkan sistem gagal menjalankan fungsi yang diperlukan. Fault merupakan alasan utama untuk kegagalan pemakaian software, dan biasanya disebut dengan bug. Walaupun input yang diberikan benar telah dimasukkan ke dalam sistem, tetapi tetap terjadi kegagalan, maka kita dapat mengatakan bahwa sistem tersebut memiliki fault atau bug dan membutuhkan perbaikan. (Agarwal, Tayal, Gupta.
Failure
Failure merupakan ketidakmampuan dari software untuk menjalankan fungsi yang diperlukan berdasarkan spesifikasinya. Dengan kata lain, ketika software tetap melakukan pemrosesan tanpa menunjukkan error atau fault walaupun masukan tertentu dan spesifikasi proses dilanggar, maka hal tersebut disebut dengan software failure. (Agarwal, Tayal, Gupta, 2010:190)
Activity Diagram
Mengacu pada pendapat Satzinger, Jackson, dan Burd (2010, p141), activity diagram adalah salah satu jenis workflow diagram yang menggambarkan alur aktivitas – aktivitas pengguna secara berurutan. Menurutnya, workflow adalah urutan langkah-langkah untuk memproses transaksi-transaksi bisnis. Swimlane menggambarkan aktor atau orang yang melakukan aktivitas. Starting activity (pseudo) menggambarkan titik awal dimulainya suatu aktivitas dari diagram tersebut. Transition arrow menggambarkan alur aktivitas. Activity menggambarkan aktivitas yang ada dalam suatu proses bisnis. Ending activity (pseudo) menggambarkan titik berakhirnya pelaksanaan aktivitas dalam suatu proses bisnis. Synchronization bar digunakan untuk menggambarkan aktivitas-aktivitas yang dilakukan secara bersamaan. Decision activity digunakan untuk menggambarkan pengambilan keputusan yang dilakukan oleh pelaku bisnis. (Satzinger, Jackson, dan Burd.Untuk menggambarkan interaksi antara satu activity diagram dengan activity diagram yang lain digunakan simbol sebagai berikut:
Simbol tersebut digunakan seperti simbol activity, hanya simbol ini menggambarkan nama activity diagram lain yang berinteraksi dengannya. Memang belum ada call activity action resmi dalam spesifikasi UML, meskipun simbol tersebut ada di dalam
Product Specifications
Product specification atau sering dikenal sebagai functional specification merupakan definisi fungsi-fungsi yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan pengguna.
Integrasi antara SAP Business One dengan IReap POS
SAP Business One dan IReap POS merupakan dua aplikasi yang diterapkan di lingkungan yang berbeda, dimana SAP Business One dimaksudkan untuk back-end user dan IReap POS untuk front-end user. Keduanya saling berkaitan, data-data yang dimasukkan melalui IReap POS akan dikirimkan ke SAP Business One untuk diolah lagi. Selain itu, ada juga data-data yang diinput dari SAP Business One akan dikirimkan ke IReap POS untuk kebutuhan operasional.
Tidak semua data yang dimasukkan melalui IReap POS dikirimkan ke SAP Business One. Begitu juga sebaliknya, tidak semua data yang dimasukkan melalui SAP Business One akan dikirimkan ke IReap POS. Secara garis besar, integrasi antara IReap POS dengan SAP Business One dapat dilihat pada gambar dibawah ini.
Data yang dikirim dari SAP Business One ke SAP Business One menggunakan format XML, begitu juga dengan data yang dikirimkan dari IReap POS ke IReap POS. Kedua aplikasi tersebut sama-sama menghasilkan file XML, tetapi format struktur data yang dihasilkan tentunya berbeda. Untuk menyamakan format/ template struktur data antara kedua aplikasi tersebut dibutuhkan proses transformasi. Secara rinci, terdapat enam proses utama dalam integrasi antara IReap POS dengan SAP Business One. Keenam proses tersebut adalah sebagai berikut:
1. Export dari POS Server
2. Tranformasi dari dokumen IReap POS ke dokumen SAP Business One
3. Inbound ke SAP Business One
4. Outbound dari SAP Business One
5. Transformasi dari dokumen SAP Business One ke dokumen IReap POS
6. Import ke POS Server
Pada saat terjadi proses import – export dan inbound – outbound, masih banyak proses detail yang dijalankan bersamaan. Untuk lebih detailnya dapat dilihat pada gambar dibawah ini.
Test Tracking Spreadsheet
Untuk memudahkan pengelolaan terhadap pelaksanaan pengujian dapat digunakan sebuah alat yang dinamakan sebagai test tracking spreadsheet. Dengan penggunaan test tracking spreadsheet, akan memungkinkan tester untuk melacak setiap status dari test case, mengetahui konfigurasi yang digunakan dan mengetahui siapa yang telah melaksanakan pengujian terhadap suatu test case. (Black, 2009: 200)
Kolom pertama dari test tracking spreadsheet tersebut berisi namatest suite/ test case dari suatu pengujian. Kolom state menggambarkan status dari tiap test case. Jika kolom state ini kosong, maka mengindikasikan bahwa test case tersebut masih dalam antrian untuk dilakukan pengujian. Jika kolom ini berisi pass, maka berarti bahwa pengujian untuk test case tersebut tidak menemukan bug. Jika berisi fail, maka berarti ada bug yang ditemukan dari pengujian test case tersebut baik satu maupun lebih.
Kolom system config berisi keterangan identifikasi untuk mengetahui konfigurasi sistem yang digunakan oleh tiap test case. Kolom bug id berisi identitas dari bug yang ditemukan dari hasil pengujian test case. Kolom ini yang nantinya akan memudahkan test team untuk melacak bug tersebut dan mereferensikannya terhadap bug report yang dibuat dalam bug tracking database.
Kolom by berisi inisial dari tester yang telah melakukan pengujian terhadap test case. Kolom comment berisi komentar dari tester atau informasi tambahan mengenai status dari tiap test case. Kolom roll up berisi ringkasan dari informasi mengenai status dari tiap test case. Kolom ini terbagi menjadi tiga kolom, yaitu:
a) Kolom T berisi nilai 1 jika merupakan test case.
b) Kolom F berisi nilai 1 jika status dari test case adalah fail.
c) Kolom P berisi nilai 1 jika status dari test case adalah pass.
Bug Report
Mengacu pada pendapat Black (2009: 146), bug report adalah dokumen teknis yang digunakan untuk mendeskripsikan berbagai gejala ataupun kegagalan yang berhubungan dengan suatu bug tertentu secara spesifik. Suatu dokumen bug report yang dirancang dengan baik dapat memberikan informasi yang tepat bagi tim manajemen proyek mengenai bug tersebut sehingga dapat mengambil keputusan yang tepat (misalnya, apakah bug tersebut harus segera diperbaiki atau tidak). Selain itu, bug report juga dapat digunakan oleh para programmer atau developer untuk mengetahui informasi rinci mengenai suatu bug sehingga memudahkan penyelesaian bug tersebut.
Field Bug ID berisi pengidentifikasi dari suatu bug yang dapat dijadikan referensi dari suatu test tracking spreadsheet. Field Project Name berisi informasi mengenai nama proyek dimana bug tersebut ditemukan. Field Tester berisi informasi mengenai namatester yang menemukan bug tersebut. Field Date Opened berisi informasi mengenai tanggal bug tersebut dimasukkan ke dalam bug tracking database.
Field Quality Risk Category: Detail berisi informasi mengenai kategori rinci dari quality risk yang ditentukan secara spesifik berdasarkan bug tersebut. Field Subsystem berisi informasi mengenai subsystem dimana bug tersebut ditemukan. Field Configuration berisi informasi mengenai konfigurasi yang digunakan saat melakukan pengujian.
Field Severity dan Priority diisi dengan skala yang sama dengan yang telah dijelaskan pada bagian failure mode and effects analysis. Field RPN pada bug report didapat dari perkalian antara penilaian severity dan priority. Dengan demikian, range dari RPN adalah berkisar antara 1 – 25, dimana nilai 1 mengindikasikan bahwa bug tersebut sangat berbahaya dan nilai 25 mengindikasikan bahwa bug tersebut hanya hal sepele yang dapat diabaikan.
Field summary berisi uraian singkat mengenai bug. Field steps to reproduce menyediakan suatu deskripsi yang tepat dan jelas tentang bagaimana menghasilkan kembali bug tersebut. Field isolation berisi informasi untuk menyakinkan developer/ programmer bahwa bug yang ditemukan tersebut adalah benar-benar bug. Hal ini bisa dengan menyebutkan gejala-gejala timbulnya bug tersebut dan bisa juga dengan menjelaskan dampak serta penyebab dari timbulnya bug tersebut.
Field log berisi informasi rinci mengenai siklus hidup dari suatu bug mulai dari awal ketika bug tersebut di-entry ke dalam bug tracking database.Adapun gambaran siklus hidup dari bug report dapat dilihat pada gambar dibawah ini.
State review menggambarkan status bug dimana bug telah di-input ke dalam bug tracking database dan menunggu untuk di-review oleh reviewer sebelum bug tersebut diinformasikan kepada seluruh tim proyek pengembangan. State rejected menggambarkan status dimana bug tersebut ditolak oleh reviewer karena butuh penelitian atau informasi lebih lanjut mengenai bug tersebut. State open menggambarkan status dimana bug tersebut telah di-review dan dianggap relevan dengan informasi rinci mengenai bug tersebut dan diinformasikan keberadaannya kepada seluruh tim proyek pengembangan.
State assigned menggambarkan status dimana bug tersebut ditugaskan kepada developer untuk mencari informasi lanjut mengenai bug tersebut serta menyelesaikannya. State test menggambarkan status dimana bug tersebut telah selesai diperbaiki oleh developer serta harus diuji untuk memastikan bahwa bug tersebut benar-benar sudah diperbaiki.
State reopened menggambarkan status dimana bug dibuka kembali untuk diperbaiki lagi oleh developer. State closed menggambarkan status dimana bug telah selesai diperbaiki dan telah dikonfirmasi kebenarannya melalui pengujian. State deferred dapat digunakan oleh anggota tim proyek untuk menunda perbaikan bug tersebut jika mereka menilai bahwa bug tersebut memiliki prioritas yang rendah.
State cancelled dapat digunakan oleh anggota tim proyek untuk membatalkan perbaikan terhadap bug tersebut karena dinilai sudah tidak relevan lagi. Field Owner pada bug report menunjukkan nama orang yang bertanggung jawab terhadap bug tersebut. Dengan adanya field ini diharapkan manajer proyek dapat dengan lebih mudah melacak atau mencari informasi yang lebih rinci lagi mengenai bug tersebut.
Field Estimated Fixed berisi informasi mengenai perkiraan tanggal bug tersebut selesai diperbaiki. Field Root Cause berisi informasi mengenai akar penyebab dari terbentuknya bug tersebut. Menurut Black root cause dari suatu bug secara umum dapat berupa:
a) Functional
Dari sisi functional, akar penyebab dari suatu bug dapat berupa spesifikasi yang salah, atau spesifikasinya benar tetapi implementasinya salah, atau sistem berfungsi dengan benar tetapi hasil pengujian melaporkan error yang salah.
b) System
Dari sisi system, akar penyebab dari suatu bug dapat berupa gagalnya komunikasi sistem internal, gagalnya hardware, gagalnya operating system, software architecture yang dibuat salah, atau asumsi perancangan sudah benar tetapi asumsi saat penerapannya salah.
c) Process
Dari sisi process, akar penyebab dari suatu bug dapat berupa salahnya operasional aritmatika yang diterapkan, proses inisialisasi yang salah, control atau sequence yang salah, ataupun error dalam pemrosesan.
d) Data
Dari sisi data, akar penyebab dari suatu bug dapat berupa tipe data yang digunakan salah, struktur data yang salah atau penyebab lainnya yang berhubungan dengan data.
e) Code
Dari sisi code, akar penyebab dari suatu bug dapat berupa salah pengetikan pada code.
f) Documentation
Dari sisi documentation, akar penyebab dari suatu bug dapat berupa salahnya dokumentasi terhadap sistem.
g) Standards
Dari sisi standards, akar penyebab dari suatu bug dapat berupa tidak terpenuhnya standar yang seharusnya terhadap sistem tersebut.
h) Other
Root cause dari bug dikategorikan ke dalam other jika akar penyebab dari bug telah diketahui tetapi tidak sesuai dengan kategori yang ada.
i) Duplicate
Root cause yang ini digunakan jika terdapat dua ataupun lebih bug report yang mendeskripsikan bug yang sama.
j) NAP
Dikategorikan sebagai NAP (Not a Problem) jika bug yang dilaporkan tersebut hanya karena pemahaman yang salah oleh tester.
k) Bad Unit
Root cause ini digunakan jika bug tersebut terjadi kata kegagalan hardware yang tidak diduga.
l) RCN
RCN (Root Cause Needed) digunakan jika status dari bug tersebut sudah closed tetapi tidak ada yang mengetahui akar penyebab dari terjadinya bug tersebut.
m) Unknown
Root cause unknown digunakan jika tidak ada orang yang mengetahui apa yang terjadi atas bug tersebut.
- Field Phase Injected mendeskripsikan fase dimana bug tersebut dikenalkan, biasanya pada fase awal sebelum fase dimana bug tersebut teridentifikasi.
- Field Phase Detected mendeskripsikan fase dimana bug tersebut teridentifikasi.
- Field Phase Removed mendeskripsikan fase dimana bug tersebut berhasil diperbaiki.
- Field Close Date menjelaskan tanggal dimana status dari bug tersebut menjadi closed.
- Field Resolution mendeskripsikan bagaimana bug tersebut diperbaiki.
Dari semua bug report yang telah dimasukkan ke dalam bug tracking database maka dapat dibuatkan grafik-grafik yang mendukung sebagai laporan terhadap manajer proyek.
Failure Mode and Effects Analysis
Failure Mode and Effects Analysis (FMEA)
Menurut Shirouyehzad, Dabestani, dan Badakhshian, implementasi ERP (enterprise resource planning) telah menjadi salah satu tantangan besar bagi perusahaan-perusahaan dalam dekade akhir ini dan terdapat banyak halangan untuk mengimplementasikan ERP dengan sukses. Perusahaan dapat mengurangi akibat dari kegagalan implementasi dengan mengidentifikasi apa yang menjadi kekuatan dan kelemahannya. Salah satu metode yang dapat diaplikasikan yang dapat mencegah terjadinya kecacatan (defect) dalam implementasi adalah failure mode and effect analysis (FMEA).
FMEA merupakan teknik perancangan yang secara sistematis mengidentifikasi dan menginvestigasi kelemahan sistem yang potensial (produk atau proses) yang terdiri dari metodologi untuk menganalisa kemungkinan-kemungkinan bagaimana kegagalan sistem dapat terjadi, kegagalan-kegagalan yang mungkin terjadi (potential effects of failures) pada performa dan keamanan sistem, dan seberapa besar dampak dari masalah-masalah ini. Tujuan dari FMEA ini adalah untuk mencegah kegagalan yang tidak dapat diterima dan untuk membantu manajemen mengalokasikan sumber dayanya dengan lebih efisien.
FMEA (Failure Mode and Effects Analysis) merupakan sebuah teknik untuk mengerti dan memprioritaskan cara-cara kegagalan yang mungkin (atau yang beresiko terhadap kualitas) dalam fungsi-fungsi sistem, fitur-fitur, atribut-atribut, kemampuan-kemampuan, komponen-komponen, dan interfaces. (Black, 2009: 32).
1) System Function or Feature
Dalam baris-baris yang ada, dimasukkan deskripsi yang singkat dari fungsi sistem. Jika yang dimasukkan merepresentasikan sebuah kategori, maka harus dibagi-bagi ke dalam fungsi-fungsi atau fitur-fitur spesifik dalam baris berikutinya.
2) Potential Failure Mode(s)—Quality Risk(s).
Untuk tiap-tiap fungsi atau fitur spesifik (tapi bukan untuk kategori itu sendiri), yang dimasukkan ke dalam kolom ini mengidentifikasikan cara kegagalan itu ditemukan, yang berkaitan dengan resiko-resiko kualitas yang berhubungan dengan hilangnya sistem tertentu. Tiap-tiap fungsi atau fitur spesifik dapat mempunyai lebih dari satu ragam kegagalan (failure modes).
3) Potential Effect(s) of Failure.
Setiap ragam kegagalan dapat mempengaruhi user dalam satu atau lebih cara. Isi dalam kolom ini dibuat secara umum dibandingkan dengan mencoba mengantisipasi setiap hasil yang tidak inginkan.
4) Critical?
Dalam kolom ini, diindikasikan apakah efek-efek potensial tersebut mempunyai konsekuensi kritis bagi user. Apakah fitur atau fungsi produk tidak dapat digunakan sama sekali jika kegagalan ini terjadi?
5) Severity
Kolom severity ini (Black, 2009: 33) menunjukkan setiap efek dari kegagalan (segera ataupun tertunda) pada sistem. Digunakan skala 1 (terburuk) hingga 5 (paling tidak berbahaya), sebagai berikut:
1. Hilangnya data, kerusakan hardware, atau masalah keamanan.
2. Hilangnya fungsionalitas tanpa adanya solusi.
3. Hilanznya fungsionalitas dengan adanya solusi.
4. Hilangnya sebagian fungsionalitas.
5. Hal-hal kecil lainnya.
6) Potential Cause(s) of Failure
Kolom ini mendaftarkan faktor-faktor yang mungkin memicu terjadinya kegagalan, contohnya kesalahan operating system, kesalahan user, atau penggunaan secara normal. (Black, 2009: 33).
7) Priority
Priority (Black, 2009: 34) berarti efek dari kegagalan terhadap user, customer, dan operator. Digunakan skala 1 (terburuk) hingga 5 (paling tidak berbahaya), sebagai berikut:
1. Hilangnya nilai sistem secara total
2. Kehilangan nilai sistem yang tidak dapat diterima
3. Pengurangan nilai sistem yang mungkin dapat diterima
4. Pengurangan nilai sistem yang dapat diterima
5. Pengurangan nilai sistem yang tidak berarti
8) Detection Method
Kolom ini mendaftarkan metode atau prosedur yang ada seperti aktivitas-aktivitas pengembangan atau pengujian vendor yang dapat menemukan masalah sebelum hal tersebut mempengaruhi user, kecuali tindakan-tindakan yang dilakukan nantinya (seperti membuat dan mengeksekusi test suite) yang mungkin dilakukan untuk menemukannya.
9) Likelihood
Angka pada kolom ini merepresentasikan kerentanan, dari 1 (paling mungkin) hingga 5 (paling tidak mungkin), yang berkaitan dengan: a) eksistensi dari produk yang berdasarkan pada faktor-faktor resiko teknis seperti kerumitan dan kecacatan yang pernah terjadi sebelumnya; b) lepas dari proses pengembangan yang ada; dan c) gangguan pada operasi user. Digunakan skala 1 sampai 5 seperti berikut ini
1. Pasti mempengaruhi semua user
2. Kemungkinan besar mempengaruhi sebagian user
3. Mungkin mempengaruhi sebagian user
4. Pengaruh terbatas ke beberapa user
5. Tidak dapat dibayangkan dalam penggunaan sebenarnya.
10) RPN (Risk Priority Number)
Kolom ini menceritakan betapa pentingnya melakukan pengujian ragam kegagalan tertentu. RPN (Risk Priority Number) merupakan hasil dari severity, priority, dan likelihood. Karena digunakan skala dari 1 sampai 5 untuk ketiga parameter ini, maka RPN berkisar antara 1 (resiko kualitas yang paling berbahaya) hingga 125 (resiko kualitas yang paling tidak berbahaya).
11) Recommended Action
Kolom ini berisi satu atau lebih tindakan untuk setiap efek potensial untuk mengurangi resiko yang berkaitan (yang menekan RPN menuju angka 125).
12) Who/When?
Kolom ini mengindikasikan siapa yang bertanggung jawab untuk setiap tindakan yang disarankan dan kapan mereka bertanggung jawab untuk tindakan tersebut (contohnya, dalam fase mana).
13) References
Kolom ini menyediakan referensi untuk informasi tambahan tentang resiko kualitas. Biasanya, berkaitan dengan spesifikasi produk, dokumen persyaratan dan sejenisnya.
14) Action Results
Kolom terakhir ini (tidak terdapat pada gambar) mengizinkan untuk mencatat pengaruh dari tindakan yang diambil pada priority, severity, likelihood, dan nilai RPN. Kolom ini digunakan setelah mengimplementasikan pengujian, bukan pada awal FMEA.
Teori-Teori Khusus Dalam Bisnis
Testing
Pengujian (testing) merupakan fase yang penting untuk memastikan kualitas dari suatu pengembangan software. Alasan utama untuk mengadakan pengujian adalah untuk menemukan bugs di dalam software. Walaupun tidak ada bugs yang ditemukan, pengujian tidak dapat menjamin bahwa software tersebut bebas dari bugs. Pengujian meningkatkan keyakinan terhadap reliabilitas software. Selain itu, jika kita dapat memprediksi kerusakan dari software, kita dapat menghemat waktu dan juga biaya untuk pengembangan software.
(a) Phased Test
Pendekatan phased test (Black, 2009: 8) menyusun pengujian secara metodis melintasi fokus pengujian granularity spectrum, dari pengujian struktural menuju pengujian behavioral black-box hingga pengujian live.
(b) Integration/Product Testing
Pengujian integrasi atau produk (Black, 2009: 6) melibatkan penguji untuk menemukan bugs yang terdapat dalam hubungan dan interface antara pasangan-pasangan komponen dan sekumpulan komponen dalam sistem yang dilakukan pengujian.
(c) System Testing
Dalam fase ini, penguji mencari berbagai jenis bugs dalam sistem secara keseluruhan yang terintegrasi secara utuh. Kadangkala, seperti dalam pengujian instalasi dan kegunaan, pengujian ini melihat sistem dari perspektif customer atau end user. Di lain waktu, pengujian ini juga dirancang untuk menekankan aspek-aspek tertentu dari sistem yang mungkin tidak disadari oleh user tetapi bersifat kritis untuk jalannya sistem yang benar.
(d) Acceptance/ User Acceptance Testing
Acceptance testing atau pengujian penerimaan (Black, 2009: 7) seringkali mencoba untuk menunjukkan sejauh mana sistem telah memenuhi persyaratan yang ada. Fase pengujian ini biasanya dilakukan dalam perjanjian dimana keberhasilan pengujian mewajibkan pembeli untuk menerima sistem yang ada. Pengujian ini melibatkan data-data yang dibutuhkan untuk go live, lingkungan sistem, dan user scenario.
(e) Functional Test
Kadangkala frasa ini mempunyai makna yang sama dengan behavioral tests, tetapi dapat juga berarti pengujian yang berfokus kepada ketepatan fungsionalitas dengan seksama. Dalam kasus ini, functionality test atau pengujian fungsionalitas harus ditambahkan dengan pendekatan pengujian yang lain untuk mengatasi resiko-resiko kualitas yang penting seperti performa, beban, kapasitas, volume, dan sebagainya.
(f) Test Architecture
Test system architecture merupakan sebuah dokumen yang mendefinisikan prinsip-prinsip perancangan, struktur, dan alat-alat yang digunakan dalam testware dan test environment, layaknya juga kebergantungan antara bagian-bagian utama; independent terhadap proyek, tetapi merefleksikan sistem yang diuji.
(g) Testware
Testware meliputi semua peralatan, dokumen-dokumen, scripts, data-data, kasus-kasus, mekanisme pelacakan, dan hal-hal lainnya yang digunakan tim pengujian untuk melakukan pengujian. (Black, 2009: 80).
(h) Test Environment
Test environment atau lingkungan pengujian meliputi hardware, software, networks dan infrastruktur lainnya, kertas, perlengkapan lainnya, fasilitas, laboratorium atau tempat yang digunakan, dan hal-hal lainnya yang timpengujian dapatkan, instalasi, dan konfigurasi untuk menjalankan sistem pengujian dengan tujuan melakukan pengujian.
(i) Test Case
Test case merupakan urutan langkah-langkah, sub dari langkah-langkah tersebut, dan tindakan-tindakan lain yang dijalankan secara berurutan, atau merupakan kombinasi-kombinasi dari konsekuensi yang menciptakan kondisi pengujian yang diinginkan sehingga dapat digunakan untuk evaluasi. Test case menurut Ammann dan Jeff (2008: 15) tersusun dari test case value, hasil yang diharapkan, prefix value, postfix value yang dibutuhkan untuk eksekusi secara lengkap dan evaluasi dari software di dalam pengujian. Test case value (2008: 14) merupakan masukan yang diperlukan untuk menyelesaikan eksekusi dari software yang berada dalam pengujian. Prefix value (2008: 15) berarti masukan apa pun yang diperlukan untuk menempatkan software ke dalam kondisi yang benar untuk menerima test case value. Sedangkan postfix value berarti masukan apapun yang butuh untuk dikirimkan ke software setelah test case value dikirimkan.
(j) Test Suites
Test suite merupakan sebuah kerangka untuk melakukan eksekusi terhadap sekumpulan test case; suatu cara mengatur test case. Dalam sebuah test suite, test case dapat digabungkan untuk menjadi kondisi-kondisi pengujian yang unik
(k) Test Plan
Test plan biasanya mendeskripsikan ruang lingkup pengujian, tujuan pengujian, strategi pengujian, lingkungan pengujian, hasil yang didapatkan dari pengujian (deliverables), resiko dan penanggulangannya, jadwal, tingkatan pengujian yang akan digunakan, metode, teknik, dan alat-alat yang digunakan. Test plan seharusnya memenuhi kebutuhan dari perusahaan dan client.
(l) Setting
Dalam kaitannya dengan perencanaan pengujian, setting dideskripsikan dengan bagaimana kita ingin menjalankan pengujian dan cara organisasi menghubungkan pengujian ini dengan seluruh bagian organisasi.
(m) Transitions
Untuk setiap fase pengujian, sistem dalam pengujian harus memenuhi serangkaian kualifikasi minimal sebelum organisasi pengujian dapat menjalankan pengujian dengan efektif dan efisien.
(1) Entry Criteria
Serangkaian petunjuk pengambilan keputusan yang mengindikasikan apakah proyek siap memasuki fase pengujian tertentu. Entry criteria biasanya menjadi semakin ditekankan pada integration testing dan system testing.
(2) Continuation/ Stopping Criteria
Serangkaian petunjuk pengambilan keputusan yang mengindikasikan apakah fase tertentu dari pengujian dijalankan dengan efektif dan efisien. Sebaliknya, ketika digunakan sebagai stopping criteria, petunjuk ini diekspresikan sebagai istilah dalam menentukan apakah pengujian harus berhenti dikarenakan kualitas sistem dalam pengujian yang buruk atau masalah logika sistem yang berhubungan dengan pengujian sistem.
(3) Exit Criteria
Serangkaian petunjuk pengambilan keputusan yang mengindikasikan apakah proyek siap untuk melewati fase pengujian tertentu, atau berpindah dari satu fase ke fase lain atau menyelesaikan proyek. Exit criteria biasanya menjadi semakin ditekankan pada integration testing dan system testing.
(n) Test Development
Test development (Black, 2009: 61) dalam perencanaan pengujian digunakan untuk mendeskripsikan bagaimana tim pengujian akan menciptakan setiap obyek-obyek pengujian, seperti test cases, test tools, test procedures, test suites, test scripts, dan seterusnya.
(o) Test Configurations and Environtments
Test configuration and environtments dalam perencanaan pengujian digunakan untuk mendokumentasikan hardware, software, network, dan pengaturan tempat yang seperti apa yang akan digunakan untuk pengujian.
(p) Test Execution
Dalam perencanaan pengujian bagian ini menunjukan faktor-faktor penting yang berhubungan dengan eksekusi pengujian. Contohnya, untuk menjalankan pengujian, seringkali dibutuhkan barang-barang dari pihak luar, sumber-sumber daya utama dan sistem untuk diuji. Dalam menjalankan pengujian ini, kita akan mengumpulkan data-data yang akan ditinjau, dianalisis, dan dilaporkan kepada tim, rekan kerja, dan manager
(1) Resources
Dalam perencanaan pengujian, bagian ini mengidentifikasikan peserta-peserta kunci dalam usaha pengujian dan peran dari mereka masing-masing, beserta dengan sumber daya-sumber daya lain yang belum diidentifikasikan.
(2) Test Case and Bug Tracking
Dalam perencanaan pengujian, bagian ini berhubungan dengan sistem yang digunakan untuk mengolah dan meninjau test cases dan bugs. Peninjauan test cases merujuk kepada spreadsheets, database atau alat yang digunakan untuk mengolah semua test cases di dalam test suites dan bagaimana perkembangan dari pengujian tersebut ditinjau.
(3) Bug Isolation and Classification
Dalam perencanaan pengujian, bagian ini digunakan untuk menjelaskan seberapa jauh bugs akan diisolasi dan diklasifikasikan dalam laporan bugs. Mengisolasi bugs berarti mengadakan percobaan dengan sistem yang diuji dalam usaha pengujian untuk mendapatkan variabel yang berkaitan, kualitas atau sejenisnya. Mengklasifikasikan laporan bugs berarti menempatkan bugs yang ditemukan ke dalam kategori-kategori tertentu yang mengindikasikan bagaimana bugs seharusnya dikomunikasikan dan diatasi.
(4) Test Cycle
Eksekusi total atau sebagian dari semua test suite yang telah direncanakan untuk setiap fase pengujian. Setiap fase pengujian setidaknya melibatkan paling tidak satu siklus melalui semua test suite yang telah ditentukan. Test cycle biasanya berhubungan dengan perilisan suatu sistem dalam pengujian, seperti software atau motherboard. Umumnya, pengadaan pengujian baru terjadi selama fase pengujian, yang akan memicu munculnya test cycle yang lain.
Integrated Retail Application Point of Sales
Integrated Retail Application Point of Sales (IReap POS). Berdasarkan website resmi PT Sterling Tulus Cemerlang. IReap POS merupakan solusi lengkap yang dikembangkan oleh STEM berdasarkan oleh banyaknya proyek implementasi mySAP untuk perusahaan ritel, dan interaksi dengan pemain ritel yang menjanjikan di Indonesia.
IReap POS terbagi ke dalam beberapa fungsi utama, yaitu order, sales, inventory, physical inventory, loyalty, miscellaneous, report, administration, dan personnel.
a) Order
Modul Order digunakan untuk melayani pemesanan item yang sedang tidak tersedia di toko sehingga harus dilakukan pengiriman dari Head Office.
b) Sales
Modul Sales digunakan untuk melayani transaksi penjualan yang terjadi di toko.
c) Inventory
Modul Inventory digunakan untuk mencatat persediaan barang dan perubahan keluar masuk barang yang ada serta untuk menyesuaikan data persediaan yang ada di sistem dengan jumlah fisik barang yang ada di gudang.
d) Loyalty
Modul loyalty digunakan untuk untuk mendukung pengelolaan data member (customer).
e) Miscellaneous
Miscellaneous digunakan untuk mencatat arus kas masuk dan arus kas keluar (petty cash).
f) Report
Modul report digunakan untuk mencetak dan melihat laporan-laporan yang dihasilkan, yang terbagi ke dalam sales reporting, misc, dan inventory reporting.
g) Administration
Modul ini digunakan untuk mendukung proses administrasi termasuk melakukan proses start of day, mengelola exchange rate, memantau proses upload dan download data, mengedit MOP (means of payment), system diagnostic dan proses backup data.
h) Personnel
Modul ini digunakan untuk mencatat absensi karyawan, mendaftarkan sidik jari karyawan untuk proses absensi atau mengganti password karyawan serta untuk mencatat permintaan cuti atau izin karyawan.
SAP Business One
Mengacu pada pendapat Anderson (2011: 60), SAP Business One dirancang untuk firma kecil, yang secara umum memiliki karyawan kurang dari 100 orang, yang memiliki lebih dari lima kantor cabang atau lokasi-lokasi dan kantor cabang yang independen. SAP menempatkan Business One sebagai solusi yang ideal untuk kantor-kantor cabang dari perusahaan multinasional karena solusi ini dengan mudah terhubung dengan solusi SAP Business Suite di kantor utama perusahaan.
Layaknya pada solusi SAP ERP, Business One mendukung proses-proses bisnis penting seperti Financial Management, Warehouse Management, Purchasing, Inventory, Manufacturing, Banking, dan CRM (Customer Relationship Management).
a) Sales
Secara umum, gambaran proses sales adalah sebagai berikut:. Alur dokumen proses penjualan secara umum dimulai dari:
- Sales quotation: tawaran atau proposal yang berisi komitmen harga terhadap suatu produk/ jasa tertentu yang akan diberikan kepada customer atau lead jika diterima.
- Sales order: komitmen dari customer atau lead untuk membeli suatu produk atau jasa dengan jumlah dan harga tertentu yang telah disepakati
- Delivery note: dokumen yang secara umum mengindikasikan bahwa barang telah dikirimkan kepada customer.
- Return: dokumen retur digunakan untuk membalikkan sebagian atau seluruhnya suatu posting delivery note yang telah dilakukan. Hal ini dilakukan ketika customer meretur barang atau dilakukan untuk memperbaiki kesalahan yang telah dibuat dalam base document sebelum A/R Invoice di-posting.
- A/R Invoice: dokumen yang harus dibuat dalam proses penjualan yang merupakan permintaan untuk pembayaran atau mencatat pendapatan dalam laporan laba-rugi.
- A/R Invoice plus payment: merupakan dokumen A/R Invoice yang digunakan untuk penjualan tunai bagi one-time customers.
- A/R Credit Memo: dokumen ini digunakan untuk membalikkan sebagian atau seluruhnya suatu posting dari A/R Invoice. Dokumen ini digunakan ketika customer mengembalikan barang yang A/R Invoice-nya telah dibuat atau digunakan untuk memperbaiki kesalahan yang ada pada dokumen A/R Invoice.
- Incoming payments: pembayaran dalam proses sales yang bisa dilakukan dalam empat cara, yaitu tunai, cek, kartu kredit dan transfer bank.
b) Banking
Incoming payments adalah pembayaran dalam proses sales yang bisa dilakukan dalam empat cara, yaitu tunai, cek, kartu kredit dan transfer bank.Deposits adalah sejumlah uang yang dibayar kepada suatu lembaga keuangan atau bisnis untuk kredit pada suatu akun. Pembayaran deposit tersebut dapat dilakukan baik secara tunai, cek ataupun dengan kartu kredit. Outgoing payments adalah sejumlah uang yang dikeluarkan oleh pembeli untuk membayar suatu produk atau jasa.
Payment system/ wizard adalah batch tool yang secara otomatis membuat suatu incoming/ outgoing payment untuk melunasi A/R dan atau A/P Invoice. Adapun jenis atau metode pembayaran yang dimungkinkan dengan alat ini mencakup cek, transfer bank dan bills of exchange (hanya tersedia pada beberapa negara tertentu, tidak termasuk Indonesia). Bank statements adalah pemberitahuan yang mengikat secara hukum dari suatu bank untuk memberitahukan mitra bisnisnya mengenai turnovers pada rekening. Reconciliation adalah perbandingan rekening untuk memastikan bahwa tidak ada kesalahan dalam perhitungan atau item yang dimasukkan.
c) Inventory
Sesuai dengan sumber dari SAP library (2011), modul inventory pada SAP Business One 8.82 mencakup pengelolaan master data barang; manajemen serial number dan batch number; pengelolaan transaksi inventory seperti goods receipt, goods issue, inventory transfer, initial item quantity settings, dan inventory counts; pengelolaan price lists; proses pick and pack; dan pembuatan laporan-laporan inventory terkait.
- Item Master Data: berfungsi untuk pengelolaan semua data barang yang dibeli, dijual, diproduksi, atau disimpan sebagai persediaan barang serta service dari perusahaan. Item master data ini digunakan oleh modul purchasing, sales, production, warehouse management, accounting, dan service.
- Item Management: fungsi yang memungkinkan pengguna untuk menginput dan memodifikasi informasi dari suatu item. (SAP, 2011: 75).
- Inventory Transaction: mencakup fungsi-fungsi untuk mendukung goods receipt, goods issue, inventory transfer, initial item quantity settings, dan inventory counts.
a. Goods Receipt
Goods receipt adalah dokumen yang digunakan untuk mencatat penerimaan persediaan barang tanpa ada hubungan langsung dengan dokumen lainnya seperti dokumen-dokumen dari penjualan maupun pembelian.
b. Goods Issue
Goods issue adalah dokumen yang digunakan untuk mencatat pengeluaran persediaan barang tanpa ada hubungan langsung dengan dokumen lainnya pada modul lain.
c. Inventory Transfer
Inventory transfer digunakan untuk mencatat transaksi pemindahan barang dari satu gudang ke gudang lainnya.
4. Price Lists
Price lists digunakan untuk mencatat daftar harga yang berbeda-beda untuk suatu barang. Saat pembuatan dokumen sales maupun purchasing, SAP Business One akan mengambil harga sesuai dengan daftar harga yang di-assign terhadap business partner-nya.
5. Pick and Pack
Pick and pack pada SAP Business One memungkinkan user untuk mengotomatisasi pemrosesan sales order dan A/R reserve invoice dengan cara yang teratur, mulai dari pembuatan daftar pick up sampai pengemasan untuk pengiriman dengan dokumen delivery.
6. Inventory Reports
Inventory reports pada SAP Business One digunakan untuk melihat laporan-laporan terkait dengan item tertentu, persediaan barang yang ada beserta penilaian persediaannya.
Subscribe to:
Posts (Atom)



.jpg)
.jpg)

.jpg)